Pemain Tuntut Ganti Rugi

Pemain-pemain Arema pulang dari Banyuwangi ke Malang tanpa melakoni pertandingan

Pasca Batalnya Sunrise of Java Cup
MALANG – Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah nasib para penggawa Arema Cronus yang berangkat tur Banyuwangi Sunrise of Java Cup 2015, tiga hari terakhir. Berharap bisa meraup match fee demi kebutuhan rumah tangga dan Idul Fitri yang makin dekat, para pemain malah harus pulang ke Malang dengan tangan hampa setelah pembatalan turnamen, Selasa malam (30/6).
Para pemain Arema yang berangkat seperti Juan Revi, Samsul Arif, Hendro Siswanto hingga Arif Suyono mengaku kecewa berat. Sejatinya, para pemain sudah latihan beberapa hari sebelum berangkat, untuk bertanding di Sunrise of Java Cup. “Kita sudah latihan berhari-hari, menempuh perjalanan darat yang melelahkan, tapi tidak bisa bertanding dan tidak dapat apa-apa. Iya kalau mainnya di kota yang dekat. Ini sudah jauh, tapi ternyata batal,” keluh Hendro Siswanto, kepada Malang Post.{source}<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<!-- MP-Responsif -->
<ins class="adsbygoogle"
     style="display:block"
     data-ad-client="ca-pub-5939674582309180"
     data-ad-slot="8978285846"
     data-ad-format="auto"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>{/source}
Tak heran, susah payah para pemain Arema, harus diganti dengan kompensasi dari panpel Sunrise of Java Cup 2015. Para pemain menuntut ada ganti rugi keringat dan waktu yang sudah terbuang selama persiapan turnamen. “Tulis saja gak apa-apa. Kita minta ganti rugi kompensasi, terhadap jerih payah yang sia-sia untuk ikut turnamen ini,” tutur Hendro.
Seperti diketahui, banyak pemain yang menggunakan uang sendiri untuk berangkat ke Banyuwangi. Selain Hendro Siswanto yang menempuh perjalanan darat dari Tuban, ada juga Hasim Kipuw yang harus memakai uang pribadi, untuk terbang dari Jakarta transit Denpasar dan menyeberang ke Banyuwangi.
Semua pemain setuju bahwa harus ada kompensasi ganti rugi atas pembatalan setelah kedatangan tim Arema ke Banyuwangi. Manajemen Arema tak bisa menghalangi keinginan skuad berlogo singa. Media Officer Arema, Sudarmaji pun menyayangkan pembatalan turnamen yang merugikan pemain secara finansial dan waktu.
“Sekarang yang paling kasihan adalah pemain. Mereka berharap bisa main agar ada tambahan pemasukan, tapi ternyata batal,” kata Sudarmaji, dikonfirmasi Malang Post kemarin. Meski demikian, pihak panpel Banyuwangi tampaknya ingin menghindari tanggungjawab untuk mengganti kerugian pemain Arema yang berjerih lelah latihan dan datang ke Banyuwangi.
Edi Purnomo, panitia turnamen berkilah bahwa panpel sendiri sudah merugi lebih dari Rp 800 juta untuk persiapan penyelenggaraan. “Ya kisarannya segitu (kerugian panpel),” kata Edi, dikonfirmasi, Selasa malam (30/6).
Bahkan, panpel berkilah tidak akan mengganti uang tiket pertandingan perdana  yang sudah sold out di Banyuwangi. “Tidak ada ganti kompensasi untuk tiket yang sudah terjual,” katanya.(fin/feb)