Pernikahan Dini Masih Tinggi


Angka perceraian di Kabupaten Malang masih yang kedua tertinggi setelah Indramayu. Salah satu faktor penyebab perceraian, meski bukan faktor utama, karena tingginya pernikahan dini.
Berdasarkan data di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang, setiap tahunnya lebih dari 300 remaja yang mengajukan dispensasi kawin (DK).
 “Berdasarkan Undang-undang nomor 174 tentang perkawinan, syarat minimal usia menikah untuk perempuan adalah 16 tahun dan laki-laki 19 tahun. Mereka yang mengajukan dispenasi, berarti usianya di bawah ketentuan tersebut,” ungkap Widodo Suparjiyanto, Panitera Muda Hukum PA Kabupaten Malang.
Pada tahun 2014, PA memberikan dispensasi kawin untuk 410 remaja, lalu meningkat menjadi 473 di 2015 dan sampai Oktober 2016 lalu sudah ada 311 remaja yang menikah. Menurut Widodo, mereka yang mengajukan dispensasi kawin sebagian besar karena hamil terlebih dahulu. Selebihnya, disebabkan orangtua dari anak perempuan khawatir anaknya sampai hamil sebelum nikah, lantaran sudah pacaran lama dengan calon laki-laki.
“Kalau si gadis tidak hamil dulu, biasanya kami menyarankan pada orangtuanya untuk menunggu sampai anaknya cukup usia. Tetapi kalau orangtuanya ngotot dengan alasan, takut anaknya hamil dulu, maka kami tidak bisa menolak,” terangnya.
Sementara itu, pernikahan dini versi Badan Keluarga Berencana (BKB) Kabupaten Malang, berbeda lagi. BKB mematok usia di bawah 20 tahun untuk perempuan, sebagai pernikahan dini. Karena itulah, data yang dimiliki menjadi sangat tinggi. Pada 2014, pernikahan dini versi BKB mencapai 7.732, lalu 2015 naik menjadi 7.809 dan hingga Oktober 2016 mencapai 6.425. Jumlah ini hampir mendekati separuh dari total angka pernikahan yang ada, sekitar 14 ribu dalam periode Januari sampai Oktober 2016.
“Kami mematok usia di bawah 20 tahun sebagai kategori pernikahan dini untuk perempuan, karena memang secara psikologis mereka belum siap,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pergerakan Masyarakat Badan KB Kabupaten Malang, Lilik Wahyuni.

Sering dibaca :